Di balik peresmian fasilitas insinerator limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) medis pertama di Provinsi Aceh, terdapat peran strategis dari T. Emi Syamsyumi, tokoh masyarakat Aceh yang akrab disapa Abu Salam, selaku Direktur Utama PT Garda Lestari Ekologi Hutama (PT GLEH).
Sebelum memimpin PT GLEH, Abu Salam dikenal luas memiliki rekam jejak pengabdian bagi daerah, termasuk pernah menjabat sebagai Penasehat Gubernur Aceh Bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri. Pengalaman strategis ini memberikan visi yang kuat dalam melihat potensi kemandirian ekonomi dan kelestarian lingkungan daerah.
Di bawah kepemimpinan beliau, PT GLEH berkomitmen memutus ketergantungan Aceh pada pengiriman limbah medis ke Sumatera Utara atau Pulau Jawa. Visi ini tidak hanya melindungi kelestarian lingkungan lokal dari risiko transportasi limbah jarak jauh, tetapi juga membuka sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru bagi kemajuan Aceh.




